Banyak lagi cerita-cerita miring soal praktek persepuluhan yang sudah dikomersialkan dan dijadikan alat pemerasan oleh pendeta di gereja tertentu. Namun, apakah dengan adanya praktek yang keliru lalu kita tidak lagi perlu memberi persepuluhan? Ataukah bahwa persepuluhan itu memang bukan praktek diluar komunitas Israel?
Praktek persepuluhan sudah kelihatan jejaknya sejak masa Abraham seiring dengan upacara kurban yang merupakan praktek kuno Ibrani untuk menjalin hubungan dengan Allah melalui persembahan kepada 'Imam' sebagai pejabat perantara, dan yang kemudian dilembagakan dalam ketentuan Torat yang dikaitkan dengan rumah Tuhan dan jabatan ke-Imam-an (Kel.29/Bil.18/Ibr.8:1-4) pada masa Musa. Abraham memberikan persepuluhan kepada imam Malkisedek (Kej.14:18-19), karena imam dikhususkan untuk pelayanan agama, dan kemudian diberikan kepada bani Lewi (Bil.18:21;Ibr.7:4-5) karena mereka tidak menerima warisan. Persepuluhan merupakan bagian dari sistem agama Ibrani kuno yang terkait 'Kurban dan Persembahan' dengan maksud untuk menjalin kembali hubungan dengan Tuhan, sebagai persembahan yang berbau harum, sebagai pengakuan dosa dan salah, dan untuk menyenangkan hati Allah (Kej.4:3-4;8:20;Kel.29:25, band. Mal.3:3-4,6-12). Dan perlu disadari bahwa dalam sistem kurban dan persembahan PL, persepuluhan dikumpulkan oleh imam Lewi dan disimpan dalam ruang perbendaharan di rumah Tuhan (Neh.10:37-38;2Taw.31:11-12), dan diberikan untuk menghidupi para imam dan juga dibagikan kepada orang asing, anak yatim dan janda-janda (Ul.14:28-29), dan pemeliharaan rumah Tuhan.
Lalu bagaimana dengan ayat Maleachi 3:10? Kitab Maleakhi ditujukan pada umat Israel (1:1;3:6) yang telah mencemarkan korban dan para imam menghina Tuhan, itulah sebabnya Tuhan tidak senang dalam menerima persembahan mereka (1:10). Fasal-2 menunjukkan murka Tuhan kepada para imam yang nota bena menerima korban dan persembahan termasuk persepuluhan, sebab sekalipun tugas mereka menjadi perantara firman Tuhan ternyata mereka menyimpang (2:7-8). Kitab Maleakhi juga menyalahkan umat Israel karena kawin campur dengan bangsa lain, jadi sifatnya ibadat lahir (2:10-16) dan mereka akan dihukum, namun tujuan Tuhan adalah untuk menyucikan umat Israel lahiriah agar mereka menjadi orang-orang yang tidak menyalah gunakan kurban dan persembahan melainkan melayani Tuhan. Kita melihat antara lain penyalahgunaan persepuluhan oleh para imam sehingga para orang upahan, janda dan yatim piatu, dan orang asing menjadi tertindas, padahal maksud persepuluhan antara lain adalah untuk memberi mereka kesejahteraan. Karena itulah Fasal-3 mengingatkan kembali mereka agar persepuluhan tidak disalahgunakan, karena itu berarti menipu dan mencuri milik Tuhan, melainkan mengumpulkannya dalam rumah perbendaharaan (3:10), dan bila itu terjadi maka berkat Tuhan akan dikucurkan kembali kepada umat Israel.
Dalam Perjanjian Baru Yesus dan para Rasul tidak mengajarkannya dan PB tidak lagi berbicara mengenai 'Israel secara lahir' melainkan Israel rohani. Demikian juga ibadat lahir dengan 'kurban dan persembahan' yang berpusat sekitar 'Taurat dan Bait Allah' dan dipimpin oleh 'para Imam' telah digantikan dalam PB. Dalam PB ibadat tidak berkisar Taurat dan Bait Allah, sekalipun pada awal pelayanan umat Kristen masih ada yang hadir di bait Allah, ritus kurban dan persembahan sudah digantikan oleh 'darah Yesus sendiri' itulah sebabnya dalam PB juga tidak lagi ada jabatan Imam, dengan demikian sistem persepuluhan yang dikaitkan dengan rumah perbendaharaan di Bait Allah juga sudah digantikan dengan 'Injil kasih' (ritus basuhan, sunat, dan sabat juga tidak lagi diajarkan dalam PB).
Umat Kristen perlu menghayati dengan benar arti Injil Anugerah Perjanjian Baru yang berbeda dengan Perjanjian Lama (Yer.31:31-33;Yeh.36:26-27;11:19-20) dimana Yesus Kristus dan Roh Kudus sangat berperan (Gal.3:10-14). Taurat adalah penuntun sampai Kristus datang supaya kita dibenarkan bukan karena perbuatan kurban dan persembahan tetapi 'karena iman' (Gal.3:15-29;Ibr.8:8-13;9:9-10;10:9-10):
Jadi Perjanjian Baru telah melakukan pembaharuan dari Ibadat Insani (lahiriah) kepada Ibadat Hati Nurani (batiniah). (Ibr.9:9-10), dan sistem kurban dan persembahan PL telah digantikan oleh persembahan diri Kristus, sang Domba Paskah itu (Ibr.10:8-10). Yesus Kristus bukan saja menjadi kurban itu sendiri, tetapi ia menjadi 'Imam Besar Perjanjian Baru' (Ibr.4:14-5:10;8:1-13;9:11-28) dan menggantikan fungsi keimaman Harun dan orang Lewi (Ibr.7:11-28). Dalam PB tidak ada lagi jabatan imam dan konsep rumah Tuhan juga berubah, itu berarti bahwa sistem korban dan persembahan juga telah berubah. Jadi, persepuluhan yang menjadi bagian dari sistem korban dan persembahan yang dikaitkan dengan jabatan keimaman dan bait Allah juga sudah berubah!
Tetapi, bukankah Yesus mengajarkan juga persepuluhan dalam Mat.23:23 & Luk.11:37-54? Ketika Yesus menyinggung soal persepuluhan, konteksnya berbicara mengenai 'percakapannya dengan orang Farisi' yang menekankan perbuatan lahir torat (seperti persepuluhan) tanpa motivasi keadilan, belas kasihan dan kesetiaan, dan pada saat itu Tuhan Yesus belum melaksanakan tugas penebusannya (jadi ia belum menjadi domba paskah dan Imam Besar PB) dan kata-kata itu ditujukan kepada orang Farisi. Dalam awal pelayanannya Yesus tidak secara radikal melakukan pembaharuan, ia masih disunat dan melakukan adat basuhan sesuai Torat namun berangsur-angsur ia menggeser hukum Taurat kepada hukum Kasih. Dalam Kotbah di Bukit (Mat.5), Yesus menggeser ibadat lahir Taurat kepada ibadat batin Injil, seperti soal persembahan (ayat-23), zinah (27-32), sumpah (33-37), pembalasan (38-39), peminta & peminjam (40-42), dan menggesernya kepada kesempurnaan hukum Kasih (43-48). Di bagian lain Yesus sudah tidak membenarkan orang farisi yang melakukan persembahan persepuluhan (Luk.18:9-14).
Yesus tidak pernah mengajarkan persepuluhan kepada murid-muridNya, demikian juga para murid tidak mengajarkannya. Kitab Ibrani justru memberikan gambaran yang jelas bahwa dalam Perjanjian Lama, manusia-manusia yang fana menerima persepuluhan (untuk kehidupan mereka), tetapi Yesus (yang adalah domba Paskah dan Imam Besar) tidak lagi membutuhkannya karena 'Ia Hidup' dan lebih tinggi derajatnya dari Abraham (Ibr.7:1-10), karena itu persembahan kepada Yesus adalah persembahan kepada sesama manusia terutama mereka yang terlebih hina daripada kita (Mat.25:31-46).
Persembahan Perjanjian Baru bukan agar mendapat (seperti kurban dan persembahan PL) tetapi buah yang keluar dari hati yang telah diperbaharui, dan diberikan bukan dengan paksaan a259233 kewajiban tetapi dengan kerelaan dan sukacita (2Kor.9:7) dengan tujuan untuk menghindarkan kesenjangan dalam bentuk pelayanan kasih (Kis.4:34-35;2Kor.8:1-15). Pemberian Kristen adalah perwujudan kasih Allah dalam diri kita (Mat.22:37-40;1Yoh.3:17).
Lalu berapa persembahan Kristen yang tepat? Perjanjian Baru tidak menentukan hal ini, ada yang memberikan setengah dari harta yang dimiliki (Zakheus, Luk.9:8) bahkan ada yang memberikan seluruh nafkahnya (Mar.12:41-44), Yang jelas buah-buah kasih tidak menentukan persentasi tertentu (Kis.2:45;4:36-37), bahkan berbeda dengan sistem PL dimana persepuluhan itu lebih banyak dimanfaatkan oleh para imam tetapi mengabaikan para janda, yatim piatu, orang upahan, dan orang asing seperti yang diceritakan dalam kitab Maleakhi, PB banyak bercerita mengenai pemberian yang sifatnya untuk orang miskin (Luk.18:18-27) dan para rasul mengorbankan diri dan harta mereka sebagai contoh.
Persembahan yang benar digambarkan oleh rasul Paulus sebagai berikut:
"Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Mat.25:40).



